Uangku Sehat
Kejadian ini terjadi di Negara yang sudah
merdeka 69 tahun lalu. Negara yang memiliki penduduk terbanyak ke-3 di dunia
(jangan pernah ada fikiran ini adalah negara kita). Pagi itu pak Bejo bersiap untuk bekerja,
seperti biasa ditemani kantung ajaib dia berangkat bekerja.
Bu
Iyem : “Bapak
hati-hati ya, ini ibu bawakan
bekal.” (memberikan bekal makanan)
Pak
Bejo : “Terimakasih.
Bu, bapak berangkat kerja dulu ya!”
Bu
Iyem : “Iya
pak hati-hati, uhuk...”
Pak
Bejo : “Asslamu’alaikum bu, ibu juga istirahat saja gak usah
dagang dulu.”
Bu
Iyem : “Wa’alaikumsalam
pak. Iya, uhuk.. uhukk” (sambil mencium tangan pak Bejo)
Setelah bekerja selama beberapa jam,
pada siang harinya pak Bejo
pun ditelepon bu Iyem.
Pak
Bejo : “Ada apa bu?”
Bu
Iyem : “Badan ibu lemes pak, sakit semua. Ibu sesak nafas.”
Pak
Bejo : “Apaaa? (dengan wajah terkaget-kaget) Tunggu bu, bapak
akan langsung pulang.”
Pak Bejo
dan bu Iyem langsung pergi
kepuskesmas, namun Pihak
puskesmas, malah menyuruh mereka melakukan pemeriksaan ke Rumah Sakit. Akhirnya, Pak Bejo dan bu Iyem berencana pergi ke
rumah sakit terkenal di Jakarta
yaitu RS Cipta Mangunkusus.
Mereka berencana menggunakan kartu BPJSUOGM (Badan Penyelenggara Jaminan Sakit,
untuk Orang Gak Mampu) yang mereka miliki. Pagi-pagi sekali mereka berangkat
agar mendapat nomer antrian awal. Sampai disana mereka mendapatkan nomer urut
3.
Pak
Bejo : “Alhamdulillah dapat nomer urut ke-3.”
Bu
Iyem : “Iya
pak mudah-mudahan, ibu bisa cepat
sembuh. Ibu sudah sangat lelah.” (Sambil mendramatisir)
Sementara itu di ruang tunggu terdapat 3
orang, yang berpakaian sangat glamor, sepertinya orang kaya, salah satunya
seorang ibu-ibu dengan gadget terbarunya yang dapat mengeluarkan barang-barang
terbaru. Tak lama seorang suster muda keluar dan memanggil nama-nama pasien.
Suster Pin :
“Nomer urut 1 ibu Diana, membayar dengan uang tunai. Silahkan masuk bu.”
Bu
Diana :
“Terimakasih sus, lihat deh gelang baru saya, baguskan.” (katanya sambil
memamerkan gelangnya).
Suster Pin : “Hmm... indah sekali bu, pasti mahal. Saya jadi ingin.”
Bu
Diana :
“Tentu saja ini asli dari nigeria, hahhhah. Suami saya yang membelikannya.”
Suster Pin : “Pantas, seperti tidak ada yang menjualnya disini. Baiklah,
silahkan masuk bu, semoga ibu senang dengan pelayanan kami.”
Bu Diana, segera memasuki ruangan
dokter, tak lama dia keluar dengan wajah bahagia. Sang suster meyapa kembali.
Suster Pin : “Bagaimana bu? Apa penyakit ibu?”
Bu
Diana :
“Biasalah sus, penyakit orang kaya.” (sambil tertawa)
Suster Pin : “Oke bu, semoga lekas sembuh.”
Bu
Diana :
“Terimakasih.”
Setelah bu Diana pergi pak Bejo dan bu Iyem hanya bisa terdiam,
apa hanya orang kaya yang berobat disini. Tak lama si suster memanggil pasien
kedua.
Suster Pin : “Bapak Amin Richman,
silahkan masuk. Bapak tadi membayar dengan emas satu batang, kan?”
Pak
Richman : “Tentu saja. Saya
kan orang kaya, suster mau berapa batang emas? Saya punya banyak di gudang.”
Suster pin : “Waahh berarti bapak sangat kaya!”
Pak
Richman :
“Tentu saja, lihat ini dompet saya. Banyak kan uang saya! Bahkan harta saya gak bakal habis 7 turunan, 7 tanjakan,
7 pengkolan, 7 perempatan. hahhaha” (sambil
mengelurkan uang dari dompetnya).
Suster
Pin : “Itu uang atau apa?” (dengan
ekspresi aneh)
Pak Bejo
dan bu Iyem yang melihatnya hanya
dapat menggeleng-gelengngkan kepala. Tak pernah dilihatnya uang sebanyak itu.
Dengan heran pak Bejo
bertanya.
Pak
Bejo : “Maaf pak, uang bapak banyak sekali, bapak kerjanya apa
ya?”
Pak
Richman :
“Bukan urusan kamu, uang saya banyak karena saya kerja. Emangnya kamu.” (yang langsung
masuk keruangan dokter)
Tak lama pak Richman keluar dengan wajah
sumringah.
Suster Pin : “Bagaimana pak? Bapak sakit apa?”
Pak
Richman : “Biasa sakit orang
kaya.”
Suster Pin : “Oh begitu semoga lekas sembuh.”
Pak
Richman :
“Terimakasih sus.” (diiringi senyum aneh)
Pak Bejo
dan Bu Iyem bersiap-siap karena
setelah ini nama mereka akan dipanggil.
Pak
Bejo : “Bu, ayo sekarang giliran kita.”
Bu
Iyem : “Iya pak, akhirnya. Kepala ibu sudah sangat pusing, rasanya ibu ingin pingsan.”
Pak
Bejo : “Ibu kok lebay.”
Lalu, si suster memanggil pasien
selanjutnya.
Suster Pin : “Bu Atang
ayo silahkan masuk.”
Dengan langkah lemas seorang ibu dengan membawa
gadgetnya yang terbaru menghampiri si suster.
Suster Pin : “Ibu tadi membayar dengan cek kan?”
Bu
Atang :
“Iya Sus, saya kan orang
kaya. Lihat gadget saya cangih sekali kan ya?”
Suster
Pin : “Wahhh canggih banget bu. Ayo
Bu, silahkan masuk.”
Pak Bejo
yang tidak terima nama istrinya
dilewat, komplain kepada suster.
Pak
Bejo : “Sus, kok nama istri saya dilewat, padahalkan saya sudah
menunggu sejak tadi. Gimana kalo istri
saya pingsan?” (Dengan ekspresi agak ngotot)
Bu
Iyem : “Iya
nih, suster ini gimana, saya sudah mengantri loh!”
Bu
Atang : “Ibu ngapain sih? Saya
orang kaya. Gak liat nih ada tulisannyaa.” (menunjuk sebuah papn kecil, yang
bertuliskan ‘saya orang kaya).
Pak
Bejo : “Ibu tapi gabisa seenaknya
aja. Saya nunggu sudah dari pagi.”
Bu
Atang : “Bukan urusan anda yaa,
yang penting saya kaya. Memangnya kamu makan aja susah. Huu”
Suster
Pin : “Sudah jangan membuat
kegaduhan disini pak, bu!”
Bu
Atang : “Iya mereka berdua ini yang
membuat gaduh. Sudah saya ingin cepat-cepat diperiksa saja.”
Suster Pin :
“Aduhh bu Atang nambek, gar-gara bapak dan ibu sih. Sekarang saya tanya bapak dan ibu bayar
dengan apa?”
Pak
Bejo : “Pake
ini.” (sambil menunjukan kartu BPJSUOGM)
Suster Pin : “Kalo pake itu, belakangan aja. Siapa suruh gak punya
uang.” (suster melengos pergi meninggalkan pak x dan Bu y, yang masih melongo
ditempat).
Pak
Bejo : “Orang
miskin mah emang harus sabar ya bu.”
Pak Bejo
dengan sabar kembali menunggu. Tak lama bu
Atang keluar dengan wajah gembira.
Suster Pin : “Bu Atang, semoga
lekas sembuh.”
Bu
Atang : “Makasih suster.
Kapan-kapan saya kesini lagi bawa mobil baru saya ya.”
Suster
Pin : “Iya ibu, kapan pun kami siap
melayani.”
Bu
Atang : “Oke sampai jumpa sus. Ini
ada sedikit rejeki untuk suster.” (Sambil memberi uang tip). Sampai jumpa sus.”
Suster
Pin : “Ehhh i..iyaa..” (Terpaku
menatap uang tipnya).
Pak
Bejo : “Emm, sus. Sekarang
giliran istri saya kan ya?”
Suster
Pin : “Iya, iya buruan masuk.”
Bu
Iyem : “Alhamdulillah, ayo pak.”
Pak Bejo
dan Bu Iyem masuk ruangan dan segera duduk di depan
dokter.
Bu Iyem :
“Selamat siang pak dokter ganteng. Ehh”
Dr. Herp :
“Siang juga.”
Pak
Bejo : “Ihh si Ibu, periksa
dulu.”
Bu
Iyem : “Iya iya”
Pak
Bejo : “Dok,
tolong periksa istri saya ya, nih terserah mau dibuang atau di apain, ikhlas saya dok.”
Bu
Iyem : “Ihh si bapakk.”
Dr. Herp :
“Emhhh..iya baiklah. Apa keluhan yang ibu rasakan akhir-akhir ini.”
Bu
Iyem : “Pusing yang berkunang-kunang, batuk yang tidak berdahak
dan bersuara, pilek dok.”
Dr. Herp : “Sebentar saya cek dulu.” (Sambil mengukur denyut nadi bu
y)
Bu
Iyem : “Jadinya saya sakit apa ya dok?”
Dr.
Herp : “Bisa diatur, ada ininya
gak?” (sambil tangannya membentuk pola)
Pak
Bejo : “Eh dokter kenapa? Laper?
Mules?
Dr.
Herp : “Bukan, tapii ini nih...”
(memperjelas gerakan tangannya)
Pak
Bejo : “Gak ngerti dok.”
Dr. Herp : “Hmm, dasar wong
susah, yowislah. Sebentar ya.” (dokter menuliskan
sesuatu di selembar kertas) Ini,
nanti dikasih ke apotek ya.”
(sambil memeberikan kertas itu)
Pak
Bejo : “Makasih, dok makasih.” (sambil mencium tangan dokter)
Dr. Herp : “I…Iy..a.” (mengelap tangan kebajunya)
Pak Bejo
dan bu Iyem buru-buru keluar ruang
periksa sambil, membawa secarik kertas itu dengan hati yang berbahagia.
Bu
Iyem : “Ini
mbak resep dokternya.”
Apoteker :
“Mbak-mbak emang saya
mbak kamu.”
Tak lama kemudian sang apoteker memberikan
bungkusan kepada pak Bejo
dan bu Iyem. setelah itu dengan
segera pak Bejo
dan bu Iyem membuka bungkusan itu.
Ternyata isinya adalah tulisan Setelah membukanya ternyata isinya hanya secarik
kertas.“Masih jaman berobat dengan BPJS?” seketika mereka melongo kaget.
Pak Bejo :
“Sabar bu Rumah Sakit jaman sekarang mah emang kayak gini.”
Bu Iyem : “Bukan salah Rumah Sakit. Makanya
bapak nyari duit yang bener. Jangan males-malesan.”
By: Resmitha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar